ALT_IMG

Bioekologi Semut Rangrang

Semut Rangrang, atau Weaver Ant, dengan nama ilmiahnya Oecophylla smaragdina, semut berwarna merah yang agresif . Sifat agresif semut ini kemudian dimanfaatkan orang mengendalikan beberapa spesies hama. Semut ini ternyata dapat menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan.Baca Artikelnya...

ALT_IMG

Semut Rangrang Sebagai Sumber Penghasilan

Meskipun gigitan semut rangrang cukup menyakitkan, semut ini terbukti mampu menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan.Baca Artikelnya...

Alt img

Makanan Semut Rangrang

Makanan semut rangrang sangat beragam, namun dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu protein dan gula. Tidak seperti semut lain, semut jenis ini lebih menyukai protein daripada gula.Baca Selanjutnya.....

ALT_IMG

Semut Rangrang Sebagai Predator Alami Hama

Penelitian tentang potensi semut rangrang sebagai predator atau musuh alami hama sudah dilakukan cukup lama. Huang dan Yang (1987) menuliskan bahwa semut rangrang sudah dikenal oleh bangsa China pada tahun 304 Masehi untuk mengendalikan hama kutu-kutuan pada tanaman jeruk.Baca Artikelnya....

ALT_IMG

Koloni Semut Rangrang

Semut rangrang hidup dalam kelompok sosial di mana pekerjaan dibagi sesuai dengan tipe individunya (kastanya). Dengan kerja sama dan organiasi yang baik serta disiplin mereka dapat melakukan banyak hal. Kumpulan dari beberapa semut rangrang dari yang beranggotakan beberapa ekor hingga yang beranggotakan beberapa sarang dinamakan koloni.Baca Artikelnya...

ALT_IMG

Budidaya Semut Rangrang di Perkebunan

Banyak sekali manfaat membudidayakan semut rangrang di perkebunan, hasil ganda akan kita dapatkan dari keberadaan semut-semut ini di pohon-pohon yang kita tanam. Hasil utama adalah panen buah, hasil tambahannya adalah panen kroto,Baca Artikelnya....

ALT_IMG

Morfologi Semut

Tubuh semut terbagi atas tiga bagian, yakni kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut). Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural,Baca Artikelnya....

ALT_IMG

Budidaya Semut Rangrang Didalam Bambu

Semut rangrang ini bisa dibudidayakan,secara tradisional maupun secara intensif. Budidaya semut rangrang secara tradisional bisa kita kembangkan dengan memindahkan segerombolan koloni/sarang dari pohon yang satu kepohon yang lainya. dalam budidaya semut rangrang secara intensif yakni dengan memelihara koloni semut rangrang pada sebuah tabung bambu.Baca Artikelnya....

ALT_IMG

Solenopsis | Sahabat Petani

Solenopsis adalah semut api yang gigitannya sangat pedih, biasa menggigit pada kaki setiap orang yang berjalan di pematang sawah. Biasanya terdapat di pematang sawah. Semut berwarna kemerahan sampai coklat. Mereka membuat sarang di tanah kering dan pada pematang sawah yang basah. Baca Artikelnya....

October 19, 2012

Solenopsis geminata | Semut Sahabat Petani

4 comments
Solenopsis geminata
Solenopsis geminata (Fabricius)
Hymenoptera : Formicidae

Solenopsis adalah semut api yang gigitannya sangat pedih, biasa menggigit pada kaki setiap orang yang berjalan di pematang sawah. Biasanya terdapat di pematang sawah. Semut berwarna kemerahan sampai coklat. Mereka membuat sarang di tanah kering dan pada pematang sawah yang basah. Mereka biasa mencari makanan sampai beberapa meter dari sarangnya. Semut api cepat membentuk koloni di tempat yang baru, membuat sarang dengan ratusan sampai ribuan pekerja dan serdadu. Semut memangsa berbagai jenis serangga dan hewan kecil. Mereka juga membawa biji-bijian dari sawah yang kering dan dibawa ke sarangnya. Ada pekerja yang bertugas khusus untuk menghancurkan biji-bijian sehingga menjadi bentuk yang dapat dimakan bagi semut yang muda. Solenopsis mampu menundukkan dan memangsa serangga yang badannya lebih besar. Telur kepinding hitam dapat diserangnya, bahkan kepinding hitam dewasa besarpun diserangnya.

Solenopsis dapat menjadi pemangsa (predator) serangga yang kuat dan agresif, membantu petani melawan serangga-serangga pengganggu tanaman baik tanaman padi maupun lainnya.

Solenopsis memiliki kepala berambut dan mempunyai antena 12 ruas, ruas dengan dua tonjol'an (bonggol).

Sumber Literatur : Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu Sekretariat Proyek PHT pusat Departemen pertanian
Baca Selanjutnya →
July 3, 2012

Morfologi Semut

1 comments
morfologi semut

Tubuh semut terbagi atas tiga bagian, yakni kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut). Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural, dan bagian perut kedua yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma (perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).

Tubuh semut, seperti pada serangga lainnya, memiliki eksoskeleton atau kerangka luar yang memberikan perlindungan, berbeda dengan kerangka manusia dan hewan bertulang belakang. Serangga tidak memiliki paru-paru, tetapi mereka memiliki lubang-lubang pernapasan di bagian dada bernama spirakel untuk sirkulasi udara dalam sistem respirasi mereka. Serangga juga tidak memiliki sistem peredaran darah tertutup. Sebagai gantinya, mereka memiliki saluran berbentuk panjang dan tipis di sepanjang bagian atas tubuhnya yang disebut "aorta punggung" yang fungsinya mirip dengan jantung. sistem saraf semut terdiri dari sebuah semacam otot saraf ventral yang berada di sepanjang tubuhnya, dengan beberapa buah ganglion dan cabang yang berhubungan dengan setiap bagian dalam tubuhnya.

Anatomi semut

anatomi semut


Pada kepala semut terdapat banyak organ sensor. Semut, layaknya serangga lainnya, memiliki mata majemuk yang terdiri dari kumpulan lensa mata yang lebih kecil dan tergabung untuk mendeteksi gerakan dengan sangat baik. Mereka juga punya tiga oselus di bagian puncak kepalanya untuk mendeteksi perubahan cahaya dan polarisasi. Kebanyakan semut umumnya memiliki penglihatan yang buruk, bahkan beberapa jenis dari mereka buta. Namun, beberapa spesies semut, semisal semut bulldog Australia, memiliki penglihatan yang baik. Pada kepalanya juga terdapat sepasang antena yang membantu semut mendeteksi rangsangan kimiawi. Antena semut juga digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan mendeteksi feromon yang dikeluarkan oleh semut lain. Selain itu, antena semut juga berguna sebagai alat peraba untuk mendeteksi segala sesuatu yang berada di depannya. Pada bagian depan kepala semut juga terdapat sepasang rahang atau mandibula yang digunakan untuk membawa makanan, memanipulasi objek, membangun sarang, dan untuk pertahanan.

Di bagian dada semut terdapat tiga pasang kaki dan di ujung setiap kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat dan berpijak pada permukaan. Sebagian besar semut jantan dan betina calon ratu memiliki sayap. Namun, setelah kawin betina akan menanggalkan sayapnya dan menjadi ratu semut yang tidak bersayap. Semut pekerja dan prajurit tidak memiliki sayap.

Di bagian metasoma (perut) semut terdapat banyak organ dalam yang penting, termasuk organ reproduksi. Beberapa spesies semut juga memiliki sengat yang terhubung dengan semacam kelenjar beracun untuk melumpuhkan mangsa dan melindungi sarangnya. Spesies semut seperti Formica yessensis memiliki kelenjar penghasil asam semut yang bisa disemprotkan ke arah musuh untuk pertahanan jika semut merasa terganggu.

Sumber Literatur : http://id.wikipedia.org

Tags :
Baca Selanjutnya →
July 2, 2012

Jenis Kroto

1 comments


Bagi para penggemar burung kicauan, kroto adalah merupakan pakan alternatif yang kaya akan protein dan vitamin. Kroto juga dapat membuat kicauan burung lebih merdu dan bulu lebih mengkilap. Kroto adalah telur dari semut rangrang, yang merupakan campuran larva dan pupa semut. Kroto digemari oleh burung-burung pemakan serangga, seperti jalak, cucak rowo, murai batu, kacer, kutilang, beo, dan lain-lain. Menurut jenisnya, kroto dibedakan menjadi kroto basah, kroto halus, kroto kasar, dan kroto kacang.

1. Kroto basah, merupakan kroto yang paling banyak digemari oleh burung dan juga sebagai umpan pancing. Kroto jenis ini merupakan telur dan larva semut rangrang yang masih baru dengan kandungan air yang tinggi sehingga mudah busuk. Jika tanpa pengawetan, umur kroto basah hanya dapat bertahan sehari. Kroto basah sebaiknya disimpan di dalam kulkas dan dibungkus dulu dengan kertas agar air dapat terserap oleh kertas. Dalam kondisi ini kroto basah dapat bertahan hingga tiga hari. Di antara berbagai jenis kroto, kroto basah mempunyai kandungan gizi yang terbaik, terutama protein mencapai 47,80%.

2. Kroto halus, berupa semut-semut pekerja kecil dan besar. Tanpa pengawetan, jenis kroto ini dapat tahan selama seminggu. Di antara berbagai jenis kroto, kroto halus merupakan jenis yang paling tidak disukai burung.

3. Kroto kasar, berupa induk semut ratu dan semut jantan. Jenis kroto ini juga dapat tahan seminggu.

4. Kroto kacang, berupa campuran ketiga jenis kroto, yaitu kroto basah, kroto halus, dan kroto kasar, ditambah dengan jenis pakan lain, seperti kacang, jagung, padi, dedak, voer, dan beras hijau. Kroto ini dapat tahan dalam seminggu, tanpa pengawetan. Di antara jenis kroto yang lain, kroto kacang mempunyai kandungan lemak tertinggi mencapai 17,07%.

Tags :
Baca Selanjutnya →
June 28, 2012

Menyatukan Ratu Semut Rangrang Yang Berbeda Koloni

0 comments


Ratu semut rangrang yang beda koloni dapat dicampur dan di satukan kedalam tempat koloni lain. Setelah dicoba memindahkan ratu semut rangrang yang beda koloni ke tempat koloni lain, ternyata sang ratu tersebut dapat diterima dengan baik oleh semut-semut pada koloni lain.

Tapi sebaiknya jangan menyatukan calon ratu (larva semut rangrang dengan ukuran besar berwarna putih)karena calon ratu ini tidak akan bisa diterima oleh semut-semut pada koloni yang berbeda. Larva calon ratu tersebut akan di bantai habis habisan.

Ratu semut rangrang dapat dipindahkan ke tempat koloni lain yang belum memiliki ratu agar diharapkan pada koloni tersebut akan dihasilkan telur-telur semut yang banyak.

Semoga bermanfaat.
Baca Selanjutnya →
June 25, 2012

Fungsi Zat Feromon Pada Semut

0 comments
feromon pada semut

Feromon Untuk Navigasi Semut

Zat kimia Feromon memainkan peran penting dalam komunikasi serangga. Semut menggunakan feromon sebagai penjejak untuk menunjukkan jalan menuju sumber makanan.

Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi feromon sebagai zat tanda bahaya, yang digunakan ketika terancam musuh; feromon disebar di udara untuk mengumpulkan pekerja lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga memproduksi feromon sehingga isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada sifat bahayanya. Saat semut menggigit, selain meninggalkan rasa sakit juga meninggalkan zat feromon, hal ini dilakukan sebagai isyarat kepada koloninya bahwa terjadi bahaya, jika feromon ini tercium oleh semut-semut yang lain maka diharapkan terjadinya bantuan serangan.

Semut yang menemukan sumber makanan meninggalkan jejak senyawa kimia (Feromon) di tanah melalui sengat pada bokongnya. Jejak yang dibuatnya membantu teman-temannya menemukan sumber makanan.

Banyak serangga memiliki zat feromon, tapi masing-masing memiliki fungsi yang serupa tapi tak sama. Sebagai contoh, semut menggunakan feromon untuk meninggalkan jejak, sedangkan kupu-kupu menggunakan Feromon untuk menarik lawan jenis.

Semut yang bertugas mencari makan biasanya menjalankan tugas dengan cara yang sulit dijelaskan. Ia berangkat ke sumber makanan dengan berjalan berkelok-kelok, tetapi kembali ke sarang dengan rute lurus yang lebih singkat.

Bagaimana mungkin seekor semut yang hanya dapat melihat beberapa sentimeter ke depan bisa berjalan lurus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, seorang peneliti bernama Richard Feynman meletakkan sebongkah gula di salah satu ujung bak mandi, lalu menunggu seekor semut datang dan menemukannya. Ketika semut yang pertama kali datang ini kembali ke sarangnya, Feynman mengikuti jejaknya yang berkelok.

Kemudian Feyman mengikuti jejak semut-semut berikutnya. Ternyata Feynman menemukan bahwa semut yang datang belakangan tidak mengikuti jejak yang ditinggalkan; mereka lebih pintar, mengambil jalan memotong sampai akhirnya jejaknya menjadi berbentuk garis lurus.

Di ilhami hasil penelitian Feynman, seorang ahli komputer bernama Alfred Bruckstein membuktikan secara matematis bahwa semut-semut yang datang selanjutnya memang meluruskan jejak berkelok itu.

Kesimpulan yang didapatnya sama, setelah beberapa ekor semut, panjang jejak dapat diminimalkan menjadi jarak terpendek antara dua titik dengan kata lain, membentuk garis lurus.

Apa yang diceritakan tadi tentu saja membutuhkan keahlian jika dilakukan oleh manusia. Ia tentu harus menggunakan kompas, jam, maupun perlengkapan yang lebih canggih lagi untuk menentukan suatu jarak. Orang ini harus juga menguasai matematika.

Berbeda dengan manusia, penunjuk jalan semut adalah matahari, sedangkan kompasnya adalah cabang pohon dan tanda alam lainnya. Semut mengingat bentuk tanda-tanda ini, sehingga dapat menggunakannya untuk menemukan rute pulang terpendek, meskipun rute ini benar-benar baru baginya.

Meskipun kedengarannya mudah, sebenarnya cara ini sulit dijelaskan. Bagaimana mungkin seekor makhluk kecil seperti semut, yang tidak memiliki otak maupun kemampuan berpikir dan mempertimbangkan, melakukan perhitungan seperti ini?

Teknik komunikasi dengan jejak (mengikuti jejak bau) sering digunakan oleh semut. Banyak contoh yang menarik dalam hal ini.

Semut yang menemukan sumber makanan meninggalkan jejak senyawa kimia di tanah melalui sengat pada bokongnya. Jejak yang dibuatnya membantu teman-temannya menemukan sumber makanan.

Suatu spesies semut yang hidup di gurun pasir di Amerika mengeluarkan bau khusus yang diproduksi di kantung racunnya jika ia menemukan serangga mati yang terlalu besar atau berat untuk dibawanya.

Teman-teman satu sarangnya dari jauh dapat mencium bau yang dikeluarkan dan mendekati sumbernya. Ketika jumlah semut yang berkumpul di sekitar mangsa sudah cukup, mereka membawa serangga tersebut ke sarang

Ketika semut api berpisah untuk mencari makanan, mereka mengikuti jejak bau selama beberapa lama, lalu akhirnya berpisah dan mencari makanan masing-masing.

Sikap semut api berubah jika sudah menemukan makanan. Kalau menemukan makanan, semut api kembali ke sarang dengan berjalan lebih lambat dan tubuhnya dekat dengan tanah.

Ia menonjolkan sengatnya pada interval tertentu dan ujung sengat menyentuh tanah seperti pensil menggambar garis tipis. Demikianlah semut api meninggalkan jejak yang menuju ke makanan.

Bayangkan jika seorang manusia ditinggalkan di hutan yang tidak dikenal. Walaupun orang ini mengetahui arah yang harus dituju, ia akan kesulitan menemukan jalan yang tepat dan mungkin saja tersesat.

Selain itu, ia juga harus melihat keadaan sekitar dengan hati-hati dan mempertimbangkan jalan mana yang terbaik.

Namun, semut bertindak seolah-olah mengetahui benar cara menemukan jalan. Pada malam hari, mereka dapat menemukan dan mengikuti jalan yang mereka tempuh saat menemukan makanan pada pagi harinya, meskipun kondisinya berubah.

Perkembangan Sains Feromon

Seiring dengan berkembangnya sains tentang feromon, dapatlah dimengerti ternyata serangga menghasilkan bermacam-macam zat kimia yang memengaruhi perilaku serangga sejenis lainnya.
Semut misalnya, menghasilkan feromon untuk menarik teman-temannya bergotong-royong mengangkut makanan dari tempat yang jauh ke sarang mereka. Itu sebabnya kita sering melihat semut berjalan beriring-iring.

Beberapa spesies lalat, ngengat dan kumbang juga menghasilkan zat kimia tertentu yang dioleskan ke sarang tempat meletakkan telur-telurnya. Zat-zat kimia ini akan mencegah serangga lain untuk menaruh telur di tempat yang sama, jadi mengurangi kompetisi serangga-serangga baru yang nantinya menetas dari telur tadi.

Sampai sekarang, para ilmuwan sudah mengenali lebih dari 1600 feromon yang dipakai oleh berbagai serangga, termasuk serangga-serangga hama. Karena telah teridentifikasi, feromon ini bisa dibuat dalam jumlah besar secara sintetis.Feromon sintetis ini banyak dipakai untuk dijadikan perangkap serangga.

Sumber Literatur : http://id.wikipedia.org, http://www.livakara.com

Tags :
Baca Selanjutnya →
June 21, 2012

5 Semut Pembunuh

0 comments


Beberapa jenis semut ada yang menjadi masalah besar karena keganasan serangannya, berikut adalah 5 jenis semut pembunuh yang paling mematikan di dunia.

1. SEMUT API (Solenopsis invicta)

semut api


Semut Api yang memiliki panjang 0,24 inci ini telah menjadi masalah besar di Amerika Serikat setelah mereka sengaja diperkenalkan pada 1930-an. Semut api dikenal memilki koloni semut yang besar, ia berlindung dalam gundukan dan bersifat agresif, mereka menyerang dalam kawanan setelah mencium feromon yang dikeluarkan oleh sengatan semut pertama. Jadi jika Anda tersengat sekali, Anda telah ditandai untuk mendapatkan penyerangan oleh seluruh koloni jika Anda tidak bisa lolos dengan cukup cepat. binatang kecil seperti burung dan mamalia yang lebih besar seperti anak sapi baru lahir seringkali menjadi korban karena mereka tidak dapat melarikan diri dalam waktu cepat, mereka melahap secara massal.

2. SEMUT AGENTINA (Linepithema humile)

semut argentina


Semut Argentina dengan panjang 1/10 inci merupakan spesies semut sosial, yang dikenal luas dengan organisasi koloninya. Bahkan, kemiripan genetik yang sangat mirip diantara semut-semut tersebut, seekor semut individu dapat berjalan ke berbagai koloni terdekat tanpa dibunuh untuk intrusi. Gabungan dari beberapa koloni semut ini bersifat sangat merusak, terutama jika dekat pemukiman manusia. Masalah dengan semut Argentina adalah bahwa mereka termasuk 100 penyerbu hewan terbesar di dunia , dikenal sebagai pembunuh spesies semut pesaing di daerah-daerah geografis non-asli, seperti di Australia. Dalam artikel terkait di atas, para ilmuwan menyatakan bahwa ribuan koloni semut super Argentina dengan panjang ribuan mil dapat terbentuk di Australia selatan, dan semut asli daerah tersebut memiliki genetik yang sama dan perilaku yang sama pula.

3. SEMUT PELURU (Paraponera clavata)

semut peluru


Semut Peluru Amerika Selatan diketahui memiliki sengatan paling menyakitkan di seluruh dunia, index sengatan tertinggi dari Schmidt Pain Index menempati posisi 4. Nama semut ini berasal dari rasa sakit 24 jam yang disebabkan dari racun dari hasil sengatannya. Semut Peluru juga berukuran raksasa, panjangnya berkisar antara 18 sampai 25 mm (1 inci). Racun ini sangat neurotoksik, menyebabkan sakit luar biasa ketika disuntikkan ke dalam otot mamalia halus. Ketika diserang, semut pembunuh ini mengeluarkan komando perang kepada kawanannya untuk bersama untuk membela terhadap penyusup, dan mereka benar-benar akan menyerang dan menyengat musuh mereka sampai mati.

4. SEMUT BULLDOG (Myrmecia forficata)

semut bulldog


Sangat menakutkan bila mengetahui banyaknya keterampilan semut bulldog ini dalam hal membunuh , dibandingkan dengan spesies semut lain mereka lebih terampil dan agresif dalam membunuh, seperti penglihatan yang sangat baik (mereka bisa melihat dan mengikuti Anda dari puluhan meter). Sengatan yang sangat menyakitkan dapat menyebabkan syok anafilaksis pada orang yang alergi, dan mereka sangat agresif untuk penyusup, termasuk manusia. Kombinasi ini membuat mereka bertanggung jawab atas kematian orang setiap tahun di Australia.

3. SEMUT SIAFU (Dorylus nigricans)

semut siafu


Semut berbaris melalui hutan dalam kelompok jutaan, makan apa pun yang bergerak dan sangat mempengaruhi lingkungan setempat (bahkan gajah lari dari mereka). Istilah "semut pembunuh" biasanya berlaku untuk spesies ini hanya karena besarnya ukuran koloni (lebih dari 20 juta ekor). Ketika dalam perjalanan besar, semut berjalan dalam barisan panjang di lantai hutan, semut dengan kelas yang lebih kuat dari semut tersebut berjalan di sisi yang berlawanan mengapit semut lainnya dengan posisi rahang bersiaga. Pada kenyataannya mereka begitu kuat , bahkan ketika anda dapat membelah semut menjadi dua setelah ia menggigit kulit anda, tetapi rahangnya masih akan tetap dalam posisi terkunci. Di Afrika Timur, dalam situasi darurat rahang semut siafu digunakan sebagai 'benang jahit', untuk menutup luka yang terbuka/
Baca Selanjutnya →
April 3, 2012

Cara Menyatukan Koloni Semut Rangrang Yang Beda Sarang

2 comments
koloni semut rangrang pict

Bibit semut rangrang yang akan dimasukkan ke dalam tabung bambu tidak selalu dari satu koloni semut tetapi seringkali terdiri dari beberapa koloni semut. Jika semut-semut yang berlainan koloni ini dimasukkan jadi satu ke dalam tabung bambu maka akan berakibat pada kegagalan penangkaran karena semut-semut akan saling berkelahi dan bunuh membunuh.

Agar tidak terjadi hal demikian maka pakailah teknik menyatukan semut rangrang yang berbeda sarang/koloni sebagai berikut :

Cari segerombolan semut rangrang yang beda tempat/sarang/koloni, setelah kita dapat sarang semut beserta semut dan telurnya jangan langsung kita satukan sarang-sarang tersebut dikarenakan akan mengakibatkan berantem, tetapi kita ambil dulu krotonya atau telur semutnya, jangan sampai induknya terbawa karena akan mati akibat berantem,terus telurnya kita simpan dulu di dalam tempat yang aman dan teduh misalnya mangkok atau yang sejenisnya. Lalu kita tempatkan di deket tabung bambu yang sudah berisi,setelah beberapa saat semut-semut yang ada pasti membawa telur itu kesarangnya,telur telur itu dianggap telur dari sarangnya sendiri padahal telur itu dari sarang yang beda tempat. setelah beberapa hari telur itu menetas dan menjadi induk, nah setelah sekitar 1-2 mingguan baru kita bisa nyatukan induk induk semut dari beda sarang itu,Insya Allah semut tidak akan berantem seperti yang pernah kita ketahui.
Baca Selanjutnya →

Berapa Modal Untuk Menghasilkan Kroto 2 Ons per Hari

3 comments
budidaya semut rangrang pict

Saya membaca sebuah artikel yang menarik di www.semutkroto.com, judul tulisannya adalah
"berapa modal untuk menangkar semut agar menghasilkan kroto 1 sampai 2,5 ons per hari?"

Setelah menemukan tulisan ini saya iseng-iseng bereksperimen menangkarkan semut rangrang dengan panduan abstrak dari tulisan ini, walhasil ya tidaklah sulit, ternyata si rangrang mau juga bertelur di tempat yang kita kondisikan, jadi semut rangrang tidak mutlak dan wajib bertelur di sarang yang dibuatnya di dedaunan pohon.

Lalu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat tempat penangkaran semut rangrang ini. Marilah kita mengira-kira sendiri, karena disetiap tempat terdapat perbedaan tingkat kesulitan dalam memperoleh bahan yang diperlukan. Patokannya adalah sebagai berikut :

Modal Awal Tetap I :

A. Bisa menggunakan (pilihan-1) kolam sederhana sedalam 10 cm seluas sekitar 50-100 cm2 yang kalau bikin pakai semen, habis biaya sekitar 30rb; atau bisa pakai (pilihan ke-2) tempayan plastik 15 biji @ 3rb. Tempayan bisa diganti pakai ember bekas juga boleh asal tidak bocor. Bocor juga tidak apa-apa asal ditambal sehingga air tidak merembes.

B. Sebanyak 30 potongan ruas bambu diameter dalam 7 cm. Kira-kira perlu 1 atau 2 lonjor bambu. Harga @ 15.000. Batang bambu LIMBAH BANGUNAN rumah juga tidak apa-apa yang penting halal.

C. 30 biji batu bata untuk ganjal tempayan. Menggunakan 15 paving hexagonal bekas bongkaran trotoar juga tidak apa-apa. Pakai keramik-keramik bekas atau batu-batu ceper juga tidak apa-apa, karena semuanya hanya berfungsi sebagai ganjal.

D. Potongan kayu setebal 2-3 cm luas 20cm x 20 cm sebanyak 15 biji. Dalam hal ini bisa digunakan potongan-potongan papan limbah bangunan juga tidak apa-apa. Gratis malah.

E. Bambu belah ukuran 3 cm x 1 cm x 50 cm sebanyak 15 batang. Mau pakai kayu limbah bangunan juga tidak apa-apa. Ini berfungsi sebagai cagak tabung bambu.

Modal Awal Tetap II :

Bibit semut. Segerombolan semut dan krotonya yang dipetik di pepohonan, dimasukkan kantong plastik dan kemudian “digarap” sebagai bibit semut rangrang, dan dibagi menjadi 15 jumput kroto plus semut-semutnya. Harganya berapa? Tergantung berapa harganya di pencari kroto. Bisa 10.000, bisa 25.000 bisa 50.000. Atau malah bisa gratis kalau Anda memetiknya di kebun sendiri atau kebun tetangga.

Yang jelas, tidak menggunakan kroto yang sudah dipajang di warung, apalagi yang sudah bau…
Untuk yang memerlukan bibit yang sudah jadi, yakni semut-semut yang sudah terbiasa hidup di tabung, bisa dibicarakan dengan Tim Semut Bandung. Tetapi prinsipnya satu: Membibitkan semut relatif mudah.

Kesimpulan : Jumlah modal tetap bisa murah antara Rp. 150.000 sampai Rp. 50.000 atau bahkan gratis karena bisa diusahakan sendiri dengan mudah.

Modal Harian :

  • Modal harian adalah pakan untuk semut yang untuk penangkaran sejumlah 30 tabung (15 pasang tabung) di atas, tidak akan sampai Rp. 500. Bahkan bisa didapat gratis di sekitar kita.
  • Ketelatenan.
  • Tahan gigitan semut
  • Tenaga dan waktu Anda.
Baca Selanjutnya →
January 21, 2012

Budidaya Semut Rangrang di Dalam Bambu

7 comments


Semut rangrang ini bisa dibudidayakan,secara tradisional maupun secara intensif. Budidaya semut rangrang secara tradisional bisa kita kembangkan dengan memindahkan segerombolan koloni/sarang dari pohon yang satu kepohon yang lainya. dalam budidaya semut rangrang secara intensif yakni dengan memelihara koloni semut rangrang pada sebuah tabung bambu, dan tabung bambu itu ditaruh pada pohon kering atau tongkat yang berada di tengah tengah kolam. Tujuan meletakkan sarang semut di tengah kola adalah agar semut-semut tidak kabur.

Cara pembuatan :

sediakan beberapa potongan bambu yang panjangnya kurang lebih 40 cm (sesuai keinginan), salah satu ujung bambu dilubangi dan sisi lainnya dibiarkan tertutup. Jumlah potongan bambu sebnayak 10 biji(semakin banyak potongan bambu semakin banyak penghasilan kroto dan bibit yang dihasilkan),kayu papan untuk talenan bambu dan papan untuk bertengger itu semut,dan kita bikin tatakan untuk meletakkan tabung-tabung bambu tersebut di kolam, kita bikin di kolam supaya semut tidak kabur,dan tidak diganggu oleh semut beda jenis.

Setelah itu kita taruh papan pada tatakan yang sudah kita buat dan taruh bambu tersebut diatas papan itu....,setelah itu kita pindahkan bibit dari segerombolan semut rangrang bersama ratu ratunya taruh di atas bambu,papan atau langsung kita masukan kedalam tabung bambunya supaya lebih cepat bersarang (tiap sarang pasti memiliki ratu),insya alloh itu semut nyarang didalam bambu.jangan lupa kasih makanan secukupnya,tulang tulang hewan,bangkai apa aja serangga juga mau,sekali kali kasih air gula karena semua semut sangat membutuhkan rasa manis. insya alloh dengan ketelatenan pasti bisa berkembang.
Baca Selanjutnya →
January 20, 2012

Algoritma Semut

2 comments
algoritma semut pict

Ant Colony Optimization (ACO) Algorithm atau Algoritma semut merupakan algoritma yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah optimasi yang terinspirasi dari perilaku semut. Sebut aja Artificial Ant (semut tiruan).

Saat ini sedang banyak dilakukan penelitian terhadap perilaku alam yang mungkin bisa diterapkan untuk mencari solusi pada permasalahan2 optimasi. Kita sudah sering mendengar JST dan Algoritma Genetika yang meniru system kerja tubuh manusia. Perilaku hewan juga ditiru, burung, lebah, angsa… dan algoritma semut hanya salah satunya.

Perilaku Semut Yang Mana?

Pada saat semut menemukan sumber makanan, maka semut perlu menentukan jalur yang terpendek antara sumber makanan dan sarang semut. Disinilah peran teman2 atau ‘koloni’ semut. Pekerjaan menelusuri jalur didistribusikan kepada beberapa agen semut. Pada awalnya semut2 tersebut akan melalui semua jalur yang memungkinkan secara acak. Kemudian jalur yang terpendek pada saat itu dibubuhi jejak, yang disebut dengan pheromone. Pada dunia nyata, pheromone merupakan alat komunikasi berupa hormon yang dikeluarkan oleh semut sebagai penunjuk jalan bagi semut yang lain.

Photobucket

Ilustrasi koloni semut menemukan jalur terpendek untuk mencari makanan


Dengan adanya informasi pheromone, maka semut2 selanjutnya tidak akan berjalan secara acak lagi, namun akan lebih tertarik mengikuti jalur yang ada pheromonenya. Semakin banyak semut melalui suatu jalur, semakin banyak pula jumlah pheromone yang tertinggal di jalur tersebut. Sehingga, lama kelamaan semua semut melalui satu jalur yang seragam, yaitu jalur yang terpendek. Perilaku semut yang seperti ini merupakan salah satu bentuk autocatalytic-suatu perulangan dengan feedback yang positif.

Ilmuwan Pencetus Algoritma Semut?

dorigo marco pictDorigo Marco pada tahun 1992 meneliti algoritma semut sebagai thesis PhD nya. Setelah itu banyak dilakukan penelitian mengaplikasikan Algoritma Semut pada berbagai jenis permasalahan optimasi, dan muncul banyak variasi Algoritma Semut.

Macam-Macam Algoritma Semut?

- Versi pertama disebut dengan Ant System (AS), yang diaplikasikan pada TSP
- Elitist Ant System (EAS)
- Ant Colony System (ACS)
- Approximate Nondeterministic Tree Search (ANTS)
- Hyper-Cube Framework for ACO
- Rank-Based ANt System (ASrank)
- Min-Max Ant System (MMAS)
- Dsb

Masing-masing punya karakteristik sendiri2 yang membedakan. Tiap varian cocok untuk jenis permasalahan tertentu. walaupun ada banyak varaisi, basisnya tetaplah AS.

Sudah Diaplikasikan pada Berbagai Macam Kasus

- Travelling Salesman Problem (TSP) dan Asymmetric TSP (ATSP)
- The Single Machine Total Weighted Tardiness Scheduling Problem (SMTWTP)
- The Generalized Assignment Problem (GAP)
- Quadratic Assignment Problem (QAP)
- Job-Shop Scheduling Problem (JSP)
- The Set Covering Problem (SCP)
- Network Routing Applications

Tags:
Baca Selanjutnya →
January 16, 2012

Keajaiban Dunia Semut

0 comments
keajaiban dunia semut pict

Teknologi, kerja sama, strategi militer, jaringan komunikasi canggih, penataan dan pembagian kerja, disiplin, perencanaan tata kota,.... Semua ini adalah bidang yang tidak selalu dapat ditangani oleh manusia dengan sangat baik. Namun semut senantiasa berhasil melakukannya dengan sempurna. Dalam video ini, akan Anda pelajari dunia semut yang memukau, sebuah tatanan kehidupan dan kemasyarakatan yang tak mungkin muncul dengan sendirinya tanpa sebuah penciptaan sengaja. Inilah sebuah fakta jelas tentang keberadaan rancangan cerdas di alam. Juga, akan Anda temukan sejumlah kekeliruan teori evolusi, dan saksikan penciptaan tanpa cela oleh Sang Pencipta.

Baca Selanjutnya →
January 15, 2012

Budidaya Semut Rangrang di Perkebunan

0 comments
Budidaya Semut Rangrang di Perkebunan pict

Banyak sekali manfaat membudidayakan semut rangrang di perkebunan, hasil ganda akan kita dapatkan dari keberadaan semut-semut ini di pohon-pohon yang kita tanam. Hasil utama adalah panen buah, hasil tambahannya adalah panen kroto, meniadakan biaya insektisida karena sifat semut rangrang yang berperan sebagai predator alami hama.

Biasanya, jenis pohon yang disukai semut rangrang antara lain rambutan, mangga, dan jambu. Semut ini juga senang membuat sarang di pohon jati, sukun, dan mengkudu. Ukuran sarang cenderung mengikuti ukuran daun.

Untuk mencari koloni semut rangrang yang akan digunakan sebagai bibit di perkebunan diperlukan piranti khusus, yang bisa dibuat sendiri. Piranti ini terdiri atas bambu sebagai penyangga dan alat penjaring. Ukuran penyangga cukup berpengaruh terhadap hasil. Makin tinggi ukurannya, makin besar pula hasil yang diperoleh. Alat penjaring terbuat dari kain kasa yang dibentuk seperti kerucut. Alat penjaring digantungkan pada penyangga, dengan menggunakan tali rafia, pada ketiga bagian sisinya. Alat penjaring juga dapat diganti dengan besek, yang bagian tengahnya dibuat runcing. Koloni semut dan kroto yang ada di dalam sarang diambil dengan menggunakan bambu yang ujungnya dipasangi besek tersebut. Ujung yang runcing berfungsi untuk menusuk sarang semut, sehingga telur-telurnya jatuh di besek.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan di Delta Mekong, Vietnam, petani yang memelihara semut rangrang di perkebunannya hanya menghabiskan 25- 50% dari jumlah uang yang dikeluarkan untuk pembelian bahan kimia, bila dibandingkan dengan yang tidak memelihara semut, sehingga rata-rata hasil panennya tetap memberikan pendapatan bersih yang lebih tinggi.

Semut rangrang juga tidak hanya bermanfaat pada tanaman buah-buahan. Di Australia, kualitas dan hasil panen mete lebih tinggi pada tanaman yang dihuni semut rangrang dan tanpa menggunakan bahan kimia bila dibandingkan dengan kebun yang menggunakan bahan kimia untuk mengendalikan hamanya.

Selain itu, bubidaya semut rangrang di perkebunan, juga dapat mengasilkan buah organik. Saat ini pandangan orang terhadap buah organik telah berubah, sehingga buah organik memperoleh harga pasar yang lebih tinggi.

Semut ini memiliki cara hidup yang khas, yaitu merajut daun-daun pada pohon untuk membuat sarang. Semut itu menyukai udara segar. Selain perilakunya yang khas dalam membuat sarang, tubuh semut rangrang lebih besar dan perilakunya lebih agresif daripada semut lainnya.

Untuk mengembangkan koloni yang sudah ada di perkebunan, kita berikan jembatan penyeberangan antara pohon yang satu dengan pohon yang lain. Jembatan penyeberangan ini terbuat dari tali atau ranting pohon, sehingga koloni semut rangrang dapat leluasa mencari makanan dan membuat sarang-sarang baru di beberapa pohon.

Agar koloni semut rangrang merasa semakin nyaman dalam lingkungan perkebunan maka pada tiap-tiap pohon diberi tempat atau wadah untuk makanan semut. Secara rutin wadah tempat makanan semut tersebut kita letakkan misalnya tulang sapi, ikan, cacing, serangga, dll untuk mencukupi kebutuhan protein semut-semut sehingga diharapkan akan menghasilkan kroto yang melimpah.
Baca Selanjutnya →

Koloni Semut Rangrang

0 comments
koloni semut rangrang pict

Semut rangrang hidup dalam kelompok sosial di mana pekerjaan dibagi sesuai dengan tipe individunya (kastanya). Dengan kerja sama dan organiasi yang baik serta disiplin mereka dapat melakukan banyak hal. Kumpulan dari beberapa semut rangrang dari yang beranggotakan beberapa ekor hingga yang beranggotakan beberapa sarang dinamakan koloni.

Dalam satu koloni terdapat beberapa tipe individu, yaitu:

Ratu Semut
Dalam tiap-tiap koloni yang terdiri dari satu atau beberapa sarang, dapat ditemukan satu atau beberapa ekor ratu semut. Ratu semut mudah dikenali karena tubuhnya lebih besar, memiliki sayap, berwarna hijau hingga coklat dengan perut besar dan menghasilkan banyak telur.

Semut Jantan
Biasanya tubuhnya lebih kecil daripada ratu semut, berwarna kehitam-hitaman dan hidupnya singkat. Setelah mengawini ratu, ia mati. Di laboratorium semut jantan dapat hidup selama 1 minggu, sedangkan ratu semut dan semut pekerja dapat hidup beberapa bulan.

Semut Pekerja
Semut pekerja adalah semut betina yang mandul. Mereka tinggal di dalam sarang dan merawat semut-semut muda.

Semut Prajurit
Merupakan anggota yang paling banyak jumlahnya dalam koloni dan bertanggung jawab untuk semua aktivitas dalam koloninya. Mereka menjaga sarang dari serangan pengacau, mengumpulkan dan membawa makanan untuk semua anggota koloninya, serta membangun sarang.
Baca Selanjutnya →

Makanan Semut Rangrang

0 comments
budidaya semut kroto pict

Makanan semut rangrang sangat beragam, namun dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu protein dan gula. Tidak seperti semut lain, semut jenis ini lebih menyukai protein daripada gula. Protein dapat ditemukan pada daging, ikan, ayam, tikus dan serangga. Semut rangrang aktif mencari makanan dan membawanya ke dalam sarang untuk seluruh anggota sarang (koloni). Mereka memangsa berbagai jenis hama, misalnya ngengat, ulat, kepik, kutu daun, dan lain-lain yang aktif pada malam hari maupun yang bersembunyi di bawah daun pada siang hari.

Selain memerlukan protein, semut rangrang memerlukan makanan tambahan berupa gula. Untuk mendapatkan gula, semut rangrang suka mencari cadangan gula berupa embun madu (yang dikeluarkan oleh serangga pengisap cairan tanaman) atau nektar. Embun madu tersebut diperlukan sebagai energi tambahan pada periode awal pembangunan sarang. Ketika membangun sarang, semut rangrang mencari daun-daun muda yang dihuni oleh serangga penghasil embun madu dan memasukkannya ke dalam sarang.
Baca Selanjutnya →

Semut Rangrang Sebagai Predator Alami Hama

0 comments
budi daya semut rangrang pict

Penelitian tentang potensi semut rangrang sebagai predator atau musuh alami hama sudah dilakukan cukup lama. Huang dan Yang (1987) menuliskan bahwa semut rangrang sudah dikenal oleh bangsa China pada tahun 304 Masehi untuk mengendalikan hama kutu-kutuan pada tanaman jeruk.

Perilaku agresif semut rangrang dalam mempertahankan daerah kekuasaannya barangkali menjadi salah satu pertimbangan bagi para petani untuk menggunakannya sebagai “penjaga” tanaman terhadap gangguan hama. Kajian Van Mele di Vietnam (Van Mele & Truyen, 2002) membuktikan bahwa penerapan teknologi pengelolaan semut rangrang (Oecophylla smaragdina) yang tepat di lapangan, mampu meningkatkan potensi mereka sebagai musuh alami hama.

Way dan Khoo (1992) menyebutkan bahwa semut rangrang menjadi musuh alami pada sekitar 16 spesies hama yang menyerang spesies tanaman, yaitu kakao, kelapa, kelapa sawit, mangga, eukaliptus, dan jeruk. Bersama dengan kerabatnya, yaitu Oecophylla longinoda, semut rangrang Oecophylla smaragdina melindungi tanaman-tanaman tersebut dari serangan hama.

Penelitian lain juga membuktikan bahwa semut rangrang menjadi musuh alami hama pada tanaman lada hitam dan mahoni. Misalnya, Offenberg et al (2006) memperlihatkan bahwa semut rangrang mampu melindungi tanaman mangrove dari serangan kepiting Episesarma. versicolor.
Baca Selanjutnya →

Semut Rangrang Sebagai Sumber Penghasilan

1 comments
budidaya semut rangrang pict

Meskipun gigitan semut rangrang cukup menyakitkan, semut ini terbukti mampu menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan. Pengamatan Cesard (2004) di Malingping, Jawa Barat menunjukkan bahwa larva dan pupa semut rangrang yang disebut kroto, dapat dipanen dan dijual sebagai pakan burung atau umpan pancing.

Di beberapa tempat lain di Jawa, bisnis kroto ini dianggap sebagai bisnis yang sangat menguntungkan. Selama ini untuk memenuhi permintaan kroto segar para penyedia kroto masih mengandalkan hasil dari alam, mereka mengambil dari sarang-sarang semut rangrang yang berada di pohon-pohon disekitar lingkungannya.

Di beberapa tempat sudah ada yang sengaja membudidayakan dengan membiarkan koloni semut rangrang membuat sarang di tanaman buah-buahan di perkebunan, sehingga para pemilik kebun mendapatkan pendapatan ganda, pendapatan utama dari hasil panen buah dan pendapatan tambahan dari panen kroto.

Di Thailand, bisnis kroto ini menjadi bisnis sampingan bagi petani. Menurut Sribandit et al (2008), pendapatan petani dari bisnis ini mencapai US$ 12,1 per hari selama empat sampai lima bulan musim panen semut. Angka ini menjadikan bisnis ini menyumbangkan 30 persen dari total pendapatan petani pemanen kroto. Sebuah angka yang cukup menggiurkan!

Tags:
Baca Selanjutnya →

Bioekologi Semut Rangrang

0 comments
budidaya semut rangrang pict

Semut Rangrang, atau Weaver Ant, dengan nama ilmiahnya Oecophylla smaragdina, semut berwarna merah yang agresif . Sifat agresif semut ini kemudian dimanfaatkan orang mengendalikan beberapa spesies hama. Beberapa pengalaman juga membuktikan bahwa semut ini dapat menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan.

Bioekologi

Pada umumnya, koloni semut rangrang dimulai oleh seekor betina yang sudah dikawini (haplometrosis), atau sekelompok betina yang sudah dikawini (pleometrosis) (Peeters & Andersen, 1989).

Semut rangrang adalah serangga eusosial (sosial sejati), dan kehidupan koloninya sangat tergantung pada keberadaan pohon (arboreal). Mereka membuat sarang yang terbuat dari lembar-lembar daun yang mula-mula saling direkatkan oleh semut-semut pekerja, kemudian diperkuat dengan sutra yang dikeluarkan oleh larvanya. Di dalam sarang dapat ditemukan ratu semut yang berwarna hijau muda kemerah-merahan, dan ribuan semut pekerja berukuran besar (disebut “maksima”) dan berukuran kecil (disebut “minima”). Pekerja maksima bertugas untuk mencari pakan, mempertahankan dan mengelola sarang, dan memperbesar koloni, sedangkan pekerja minima bertugas mengasuh semut-semut muda, dan sekaligus beternak serangga-serangga simbion, misalnya kutu perisai. Perilaku “beternak” ini sering mengkuatirkan petani, karena hal ini berarti juga memelihara “hama potensial” pada tanaman budidaya.

Semut rangrang tidak mengumpulkan pakan di dalam sarangnya, tetapi mendapatkan pakan dengan cara “memerah” cairan manis dari kutu-kutuan atau larva kupu-kupu lycaenid, kemudian membagikannya pada larva di dalam sarang.

Tags:
Baca Selanjutnya →